Posted in: Pendidikan

Teori perkembangan Erikson (perkembangan psikososial)

Teori perkembangan Erikson (perkembangan psikososial)

Eric Erikson merupakan penganut teori psikodinamika atau psikososialis dari Freud. Erikson menerima dasar-dasar orientasi umum dari Freud, namun menambahkan dasar-dasar orientasi teorinya mengenai tahapan perkembangan psikososial. Secara umum, Tahapan perkembangan psikososial ini menekankan perubahan perkembangan sepanjang siklus kehidupan manusia. Masing-masing tahap terdiri dari tugas yang khas yang menghadapkan individu pada suatu permasalahan atau krisis bilamana tidak dapat melampaui dengan baik. Semakin individu tersebut mampu melampaui krisis, maka akan semakin sehat perkembangannya. Perkembangan psikososial sepanjang siklus kehidupan manusia dijelaskan sebagai berikut :

  • Percaya versus tidak percaya (0-1 tahun)

Pada tahap ini bayi sudah terbentuk rasa percaya kepada seseorang baik orang tua maupun orang yang mengasuhnya ataupun perawat yang merawatnya.

Kegagalan pada tahap ini apabila terjadi kesalahan dalam mengasuh atau merawat maka akan timbul rasa tidak percaya.

  • Tahap otonomi versus rasa malu dan ragu (1-3 tahun)

Anak sudah mulai mencoba dan mandiri dalam tugas seperti dalam motorik  kasar, halus  : berjinjit , memanjat,  berbicara dll. Sebaliknya perasaan malu dan ragu akan timbul apabila anak merasa dirinya terlalu dilindungi  atau tidak diberikan kebebasan anak  dan menuntut tinggi harapan anak.

  • Tahap inisiatif versus rasa bersalah (3 – 6 tahun ).

Anak akan mulai inisiatif dalam belajar mencari pengalaman baru secara aktif dalam melakukan aktifitasnya melalui kemampuan indranya. Hasil akhir yang diperoleh adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu  sebagai prestasinya. Apabila dalam tahap ini anak dilarang atau dicegah maka akan timbul rasa bersalah pada diri anak.

  • Tekun versus rasa rendah diri (6-12 tahun)

Anak akan belajar untuk bekerjasama  dan bersaing dalam kegiatan akademik maupun dalam pergaulan melalui permainan yang dilakukan bersama.

Anak selalu berusaha untuk mencapai sesuatu yang diinginkan sehingga anak pada usia ini rajin dalam melakukan sesuatu.

Apabila dalam tahap ini anak terlalu mendapat tuntutan dari lingkunganya dan anak tidak berhasil memenuhinya maka akan timbul rasa inferiorty (rendah diri).

Reinforcement dari orang tua atau orang lain  menjadi begitu penting untuk menguatkan perasaan berhasil dalam melakukan sesuatu.

  • Tahap identitas dan kebingungan identitas ( 12-20 tahun)

Pada tahap ini terjadi perubahan dalam diri anak khususnya dalam fisik dan kematangan usia, perubahan hormonal, akan menunjukkan identitas dirinya seperti siapa saya kemudian.

Apabila kondisi tidak sesuai dengan suasana hati maka dapat menyebabkan terjadinya kebingungan dalam peran.

  • Keakraban versus keterkucilan (20-30 tahun)

Individu menghadapi tugas perkembangan relasi intim dengan orang lain.

Saat anak muda membentuk persahabatan yang sehat dan relasi akrab dengan orang lain, maka keintiman akan tercapai, namun bila tidak maka akan terjadi isolasi.

sumber :

http://dewi_marisa12u.staff.ipb.ac.id/2020/06/06/review-kinemaster-pro/