Posted in: Pendidikan

PERBEDAAN PENDAPAT TENTANG RU’YAH DAN HISAB

PERBEDAAN PENDAPAT TENTANG RU’YAH DAN HISAB

1)      Ulama’ madzhab Hanafi (Al Hanafiyah)

Menerangkan apabila cuaca di langit bebas dari penghalang  ru’yatul hilal (melihat bulan), maka haruslah bisa di lihat oleh sekelompok manusia yang cukup banyak yang dari khabar yang di sampaikan oleh mereka tumbuh pengertian. Ukuran banyak dalam hal ini di serahkan kepada imam (kepala Negara) atau wakilnya. Jadi tidak mesti dalam hal tersebut jumlah yang di tentukan. Demikian ketentuan hukum yang kuat. Dalam beberapa saksi pada ru’yat ini di syaratkan hendaknya mereka menyebutkan ucapan “Asyhadu (saya bersaksi)”.

Apabila cuaca di langit tidak bebas dari beberapa hal yang menghalangi tersebut, namun ada seseorang yang menyampaikan khabar bahwasannya dia melihat bulan baru atau hilang, maka di nilai cukuplah kesaksiannya itu apabila ia seorang muslim yang adil, berakal sehat dan sudah dewasa. Baginya tidak di syaratkan mengucapkan perkataan saya bersaksi sebagaimana halnya tidak di syaratkan penetapan hukum dan tidak juga penetapan majelis peradilan.

Apabila cuaca di langit terdapat penghalang, maka tidak wajib bagi sekelompok kaum muslimin melihat bulan. Sebab sulitnya melihat bulan ketika itu. Tentang masalah saksi, maka tak ada bedanya antara saksi perempuan dan laki-laki, merdeka atau budak. Jika ada seseorang melihat hilal sedangkan dia tergolong orang yang di anggap sah persaksiannya, kemudian ia memberi khabar pada orang lain yang juga di nilai sah persaksiannya, kemudian orang kedua ini lapor kepada hakim, dan ia pun bersaksi di hadapan hakim ini atas kesaksian orang pertama tadi, maka hakim mempunyai hak menerima kesaksiannya.

Yang sama dengan orang yang adil ialah oaring yang tidak di kenal keadaannya. Demikian ketentuan hukum yang lebih benar. Dan hukumnya wajib bagi orang yang melihat bulan yang termasuk orang  yang di anggap sah persaksiannya agar mempersaksikan hal tersebut pada malam itu di hadapan hakim. Begitulah jika ia berada di kota. Bila ia hidup di desa, maka ia berkewajiban mempersaksikan hal itu di hadapan umat manusia di masjid, meskipun yang melihat bilal tadi seoarang wanita pingitan. Dalam hal ini orang yang melihat bulan dan orang yang membenarkannya berkewajiban berpuasa, walaupun persaksiannya di tolak oleh hakim hanya saja bila mereka berdua membatalkan puasanya dalam kondisi persaksiannya di tolak, maka mereka berkewajiban mengqodho’ puasa namun tidak membayar kafarat.

sumber :
https://veragibbns.com/seva-mobil-bekas/