Posted in: Agama

Pengertian Matan dan Kandungannya dalam Hadits

Pengertian Matan dan Kandungannya dalam Hadits

Pengertian Matan dan Kandungannya dalam Hadits

 

1. Pengertian matan

Matan menurut lughat ialah jalan tengah, punggung bumi atau bumi yang keras dan tinggi. Sedangkan menurut istilah, matan Hadis ialah pembicaraan (kalam) atau materi berita yang diover oleh sanad yang terakhir. Baik pembicaraan itu sabda Rasulullah SAW, sahabat ataupun Tabi’in. Baik pembicaraan itu tentang apa yang dikatakan atau dilakukan Nabi, sifat fisik Nabi, perangai Nabi atau taqrir Nabi.
Menurut Ath Thibi, matan ialah:
ألفاظ الحديث التي تتقوم بها المعانى
“lafadz-lafadz Hadis yang dengan lafadz-lafadz itulah terbentuk makna”.
Sedang menurut Ibnu Jama’ah matan ialah:
ما ينتهى إليه السند غاية السند
“Sesuatu yang kepadanya berakhir sanad (perkataan yang disebut sesuatu berakhir sanad)”.[12]
Dalam definisi Ath-Thahhan, matan ialah perkataan yang ada di akhir sanad.
Berikut contoh hadits:
حد ثنا عبد الله بن يوسف قال: أخبرنا مالك بن انس عن ابن شهاب عن سالم بن عبد الله عن ابيه ان رسول الله ص.م. مرّ على رجل من الأنصار وهو يعظ اخاه فى الحياء فقال رسول الله صلعم دعه فان الحياء من الإيمان ( رواه البخارى )
Dari contoh di atas yang disebut dengan matan yaitu mulai anna Rasulullah sampai akhir.

2. Perbedaan kandungan matan hadits

Periwayatan matan hadits dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
a. Riwayat bi al-lafdzi, adalah menyampaikan kembali kata-kata Nabi dengan redaksi kalimat yang sama dengan apa yang disabdakan Nabi. Dengan periwayatan ini, maka tidak ada perbedaan antara perawi satu dengan perawi lainnya dalam menyampaikan hadits Nabi.
b. Riwayat bi al-ma’na, periwayatan dengan makna yang terkandung dalam hadits namun redaksinya berbeda dengan yang diucapkan Nabi.
Cara kedua inilah yang menyebabkan timbulnya perbedaan kandungan matan hadits. Banyak sekali hadits yang ada di dalam kitab-kitab karya para perawi yang ditulis dengan redaksi yang sedikit banyak berbeda redaksi kalimatnya, meskipun makna yang dikandung sama. Periwayatan ini telah terjadi sejak masa shahabat karena mereka tidak mencatat hadits pada saat mereka bersama Nabi SAW, juga tidak menghafal kata per kata Nabi, maka mereka menyampaikan dari apa yang mereka ingat saja.

Semua ulama hadits sepakat untuk menerima riwayat para shahabat meskipun berbeda-beda redaksi, alasannya adalah para shahabat memiliki pengetahuan bahasa yang tinggi dan para shahabat menyaksikan langsung keadaan dan perbuatan Nabi. Mayoritas ulama hadits juga membolehkan periwayatan bi al-ma’na yang dilakukan oleh para perawi selain shahabat dengan ketentuan:

a. mengetahui pengetahuan bahasa arab yang mendalam
b. dilakukan karena terpaksa
c. yang diriwayatkan bi al-ma’na bukan bacaan-bacaan bersifat ta’abbudi
d. periwayatan bi al-ma’na sepatutnya au nahwa hadza,atau yang semakna dengannya, setelah menyebut matan hadits
e. kebolehan ini hanya berlaku sebelum masa pembukuan hadits secara resmi.[13]
Terkait dengan matan atau redaksi, maka yang perlu dicermati dalam memahami hadist ialah:
· Ujung sanad sebagai sumber redaksi, apakah berujung pada Nabi Muhammad atau bukan,
· Matan hadist itu sendiri dalam hubungannya dengan hadist lain yang lebih kuat sanadnya (apakah ada yang melemahkan atau menguatkan) dan selanjutnya dengan ayat dalam Al Quran (apakah ada yang bertolak belakang).

Sumber: wfdesigngroup