Posted in: Pendidikan

Peluang pengembangan pertanian organik di Indonesia

Peluang pengembangan pertanian organik di Indonesia

Di Indonesia, setiap tahunnya lebih dari 165 juta ton bahan organik dihasilkan dari limbah panen tanaman pangan dan hortikultura, namun potensi tersebut pada umumnya belum terkelola dengan baik.  Di lain pihak, kandungan bahan organik dalam tanah pertanian saat ini rendah, rata-rata kurang dari 2 % (Pirngadi, 2009). Umumnya bahan organik yang dihasilkan dari limbah pertanian dialihkan oleh petani untuk berbagai penggunaan lain yang seyogianya dikembalikan ke tanah sebagai pupuk organik.

Pilihan untuk menerapkan pertanian organik telah disadari oleh beberapa kalangan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman tanpa mengabaikan prinsip enviromental sustainability.  Berbagai pemikiran tentang pertanian organik yang dipahami masyarakat.

Pertanian organik dipahami sebagai teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tetapi jika melihat kondisi saat ini yang menuntut peningkatan produktivitas dan kemampuan tanah menyediakan hara maka terdapat pemikiran bahwa pertanian organik (dan penggunaan pupuk organik) juga merupakan sistem pertanian yang menggunakan bahan organik sebagai salah satu masukan yang berfungsi sebagai pembenah tanah dan suplemen pupuk buatan (kimia anorganik). Pestisida dan herbisida digunakan secara selektif dan rasional atau menggunakan biopestisida.  Landasan prinsipilnya adalah sistem pertanian modern, mengutamakan produktivitas, efisiensi produksi, serta keamanan dan kelestarian lingkungan dan sumber daya.  Akan tetapi menurut IFOAM (2005), pertanian organik dimaksudkan untuk menghasilkan makanan bermutu tinggi dan bergizi yang mendukung pemeliharaan kesehatan dan kesejateraan.  Oleh kerenanya, harus dihindari penggunaan pupuk, pestisida, obat-obatan bagi hewan dan bahan aditif makanan yang dapat berefek merugikan kesehatan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia sangat besar.  Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan.  Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain : 1) masih banyak sumberdaya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik, 2) teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain (Litbang Pertanian, 2011).

Sumber :

https://businessnews.id/skyhill-apk/