Posted in: Pendidikan

Madzhab syafi’I (Asy Syafi’iyah)

Madzhab syafi’I (Asy Syafi’iyah)

Ulama’ madzhab syafi’i menjelasakan : bulan ramadhan di tetapkan dengan ru’yatul hilal (melihat bulan baru) yang di lakukan oleh orang yang adil, meskipun keadilannya tidak di ketahui secara jelas. Baik keadaan cuaca di langit terang, atau terdapat sesuatu yang menjadikan ru’yat menjadi sulit. Orang yang menyaksikan hilal di syaratkan hendaknya seorang muslim yang berakal sehat, dewasa, merdeka, laki-laki adil walaupun secara lahirnya. Ia hendaknya dalam persaksian mengucapkan saya bersaksi .

Orang yang dapat melihat bulan dengan nyata ia berkewajiban berpuasa ramadhan, walaupun ia tidak bersaksi di hadapan hakim, atau bersaksi tetapi di tolak persaksiannya. Begitu pula orang yang membenarkannya ia berkewajiban berpuasa meskipun yang melihat bulan baru tersebut anak kecil atau seorang wanita, atau budak, atau orang fasik, atau orang kafir.

3)      Madzhab maliki ( Al Malikiyah)

Menurut ulama’ madzhab maliki ru’yatul hilal (bulan baru) ada tiga macam cara, yaitu:

  1. Hendak nya bulan baru (hilal) di lihat oleh dua orang yang adil. Yang di maksud adil ialah orang laki-laki yang merdeka yang sudah dewasa, berakal sehat yang terlepas dari dosa besar, atau terlepas dari dosa kecil, atau tidak melakukan hal-hal yang mencelakakan kepribadian.
  2. Hendaknya hilal di lihat oleh sekelompok orang yang banyak yang khabarnya menimbulkan pengertian yang yakin dan bisa di jamin kedustaan mereka, artinya bahwa mereka tak mungkin bersepakat untuk berdusta. Namun mereka itu tidak di syaratkan hendaknya mereka semuanya laki-laki, merdeka, dan adil.
  3. Hendaknya hilal di lihat oleh seorang. Namun ru’yat seorang ini tidak bisa di jadikan penetapan kecuali untuk dirinya sendiri atau untuk yang di beri khabar, jika orang ini tidak mempunyai perhatian terhadap masalah hilal.

sumber :
https://whypoll.org/seva-mobil-bekas/