Posted in: Pendidikan

Komposisi Pembentuk Eris

Komposisi Pembentuk Eris

Komposisi objek bisa diketahui dari cahaya Matahari yang dipantulkan oleh objek tersebut. Contohnya, cahaya Matahari yang dipantulkan permukaan Bumi menunjukkan adanya tanda-tanda keberadaan oksigen di atmosfer Bumi, fotosintesi tumbuhan dan adanya kelimpahan air diantara unsure lainnya. Dari pengamatan menggunakan Observatorium Gemini di Mauna Kea, Hawaii, cahaya yang dipantulkan Eris tampak sangat mirip dengan Pluto.

Hasil pengamatan menunjukkan permukaan planet ini diselubungi metana padat yang membeku. Pada temperatur rendah metana di Pluto dan Eris berada dalam bentuk bekuan padat, sementara di Bumi, metana pada temperatur yang sama berada dalam bentuk gas. Bagian dalam Eris sama dengan Pluto terdiri dari campuran batuan dan es. Permukaan Eris berwarna hampir putih dengan permukaan tampak seragam dan memantulkan 86% cahaya yang mengenainya. Dari pantulan cahayanya, Eris memantulkan cahaya lebih besar dari permukaannya dibanding objek-objek lainnya di Tata Surya dengan pengecualian Enceladus, satelit Saturnus yang memiliki geyser aktif yang senantiasa menutupi permukaannya dengan salju baru.

Belum diketahui sumber panas apakah yang memunculkan geyser serupa. Namun diperkirakan, kecerlangan permukaan dan warna putih yang seragam di Eris berasal dari penyebab yang sama. Saat ini Eris berada pada posisi terjauhnya dari Matahari, dan pada kondisi ini ia akan berada pada temperaturnya yang paling rendah. Pada jarak sejauh ini, bahkan atmosfer planet pun akan menjadi padatan es. (jika Bumi dibawa sangat jauh dari Matahari pun atmosfernya akan menjadi padatan es). Dalam 280 tahun kedepan, saat Eris berada pada titik terdekatnya dengan Matahari, temperatur di Eris akan meningkat sekitar 1,6 kali. Dengan temperatur saat ini 405 derajat dibawah nol, peningkatannya memang tidak drastis, namun perbedaan yang dihasilkan khususnya pada methana dan nitrogen adalah antara padatan es dan penguapan menjadi atmosfer.

Dengan hipotesis tersebut, Eris tampak terang dan seragam karena atmosfer yang pernah dimilikinya (280 tahun yang lalu) sekarang membeku ke tanah, sehingga memberikan cahaya terang yang menyelimuti seluruh permukaan yang tidak rata yang pernah ada disana. Keseluruhan proses ini akan terus berulang mengikuti 560 tahun periode orbit sang dewi perang.

 

Proses Penemuan Eris

Survei daerah luar Tata Surya telah dilakukan semenjak tahun 2001, dengan menggunakan Palomar QUEST camera and the Samuel Oschin Telescope di Palomar Observatory, California Selatan. Survei yang dilakukan oleh Mike Brown dari Caltech, Chad Trujillo dari Gemini Observatory di Mauna kea, Hawaii dan David Rabimowotz dari Yale University, New Haven, Connecticut sampai saat ini telah menemukan sekitar 80 objek terang di Sabuk Kuipert.

Untuk menemukan objek yang dicari, para pengamat memotret satu daerah kecil pada langit malam selama 3 jam dan mencari sesuatu yang bergerak. Bintang dan Galaksi yang ada di langit akan tampat diam sementara satelit, planet, asteroid, dan komet akan tampak bergerak.

Letaknya yang jauh, menyebabkan Eris tampak bergerak sangat lambat dibanding kebanyakan objek yang telah ditemukan tim ini sebelumnya. Karena pergerakannya yang lambat itu, pada awalnya keberadaan planet ini tidak disadari saat pertama kali mengambil data. Saat analsis ulang dilakukan 1,5 tahun dari pengambilan data barulah disadari adanya planet kerdil baru ini.

Sumber :

https://urbanescapesusa.com/