Klasifikasi dan Deskripsi Tumbuhan Balangeran
Posted in: Umum

Klasifikasi dan Deskripsi Tumbuhan Balangeran

Klasifikasi dan Deskripsi Tumbuhan Balangeran

Klasifikasi dan Deskripsi Tumbuhan Balangeran
Balangeran merupakan jenis tanaman yang cukup potensialuntuk dikembangkan di hutan rawa gambut. Jenis tersebuttermasuk jenis pohon komersial dimana pada umumnya terdapatsecara berkelompok (Martawijata, et al., 1989). Dalam klasifikasi tumbuhan, balangeran (Shorea balangeran) di klasifikasikan sebagai berikut.
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Theales
Famili : Dipterocarpaceae
Genus : Shorea
Species : Shorea balangeran

Pohon Balangeran dapat tumbuh mencapai tinggi pohon 20-25 m, mempunyai batang bebas cabang 15 m, diameter dapat mencapai 50 cm, biasanya tidak terdapat banir. Pohon balangeran dewasa mempunyai kulit luar berwarna merah tua sampai hitam, dengan tebal 1-3 cm, mempunyai alur dangkal, kulit tidak mengelupas. Jika dilihat dari kayu terasnya berwarna coklat-merah atau coklat tua, sedangkan kayu gubal berwarna putih kekuningan atau merah muda, dengan kertebalan 2-5 cm.

Tekstur kayunya agak kasar sampai kasar dan merata. Kayunya mempunyai serat lurus, jika diraba pada permukaan kayunya licin dan pada beberapa tempat terasa lengket karena adanya damar. Kayu balangeran tergolong kelas kuat II dan mempunyai berat jenis 0,86. Kayunya tidak mengalami penyusutan ketika dikeringkan. Kayu balangeran termasuk ke dalam kelas awet III (I-III) dan tahan terhadap jamur pelapuk. Kegunaan kayu balangeran antara lain dapat dipakai untuk balok dan papan pada bangunan perumahan, jembatan, lunas perahu, bantalan dan tiang listrik.

Daerah persebaran jenis balangeran yaitu di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Persebaran di Sumatera terdapat di Sumatera Selatan yaitu Bangka Belitung, sedangkan di Pulau Kalimatan terdapat di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah. Nama daerah balangeran di setiap daerah berbeda. Di Kalimantan dikenal dengan nama belangiran, kahoi, kawi dan di Sumatera dikenal dengan nama belangeran, belangir, melangir. Balangeran tumbuh tersebar pada hutan primer tropis basah yang seaktu-waktu tergenang air, di daerah rawa atau di pinggir sungai, pada tanah liat berpasir, tanah liat dengan tipe curah hujan A-B pada ketingian 0-100 m dpl.

Permudan alam terdapat bersama-sama dengan jenis lain dalam hutan yang heterogen terutama dengan jenis keruing, tembesu, bintangur, ramin. Balangeran seringkali tumbuh secara berkelompok. Untuk permudaan buatan dapat dilakukan dengan menanam bibit yang tingginya 30-50 cm dengan penanaman di dalam jalur dengan lebar 2-3 m yang telah dibersihkan. Jarak tanam 3 m dengan jarak antar jalur 5-6 m. Pada tanaman muda memerlukan pemeliharaan selama 4-5 tahun. Ketika dewasa memerlukan kondisi cahaya penuh, sehingga diperlukan pemeliharaan dengan membuka ruang tumbuh (Hyne, 1987).

Musim berbunga dan berbuah tidak terjadi setiap tahun. Musim berbuah sangat dipengaruhi oleh keadaan setempat. Biasanya buah masak seringkali bersamaan dengan famili Dipterocarpaceae yaitu bulan Februari, April sampai Juni. Buah balangeran tergolong cepat berkecambah, dan hanya dapat disimpan selama 12 hari di dalam wadah yang diberi arang basah.

2.2. Teknik Silvukultur

2.2.1 Penggulmaan atau Penebasan
Penggulmaan adalah kegitan pembuangan gulma baik yang ada di bawah maupun yang merambat yang menganggu pertumbuhan tanaman muda. intensitas penggulmaan tergantung dari jenis, tapak, dan iklim. Metode penggulmaan bisa dilakukan secara manual, makanis maupun kimia. Adapun sifat-sifat gulma yang menggangu adalah sebagai berikut :

  1. Bekompetisi langsung terhadap cahaya, kelembaban tanah dan nutrisi
  2. Membunuh tanaman dengan menaungi dan melilit tanaman pokok
  3. Gulma yang lebat merupakan potensi bahan bakar

 

Sumber: https://infotoyotabandung.co.id/huawei-luncurkan-nova-2i-ponsel-pintar-dengan-empat-kamera/