Posted in: Pendidikan

Ketaatan kepada suami selama dalam kema’rufan

Ketaatan kepada suami selama dalam kema’rufan

Ibarat pesawat yang dikemudikan oleh seorang pilot, mungkin ditemani oleh satu atau dua orang asisten pilot.

Pesawat ketika terbang, maka dengan pilot yang memimpinnya, hanya seorang pilot. Pilot lah yang memberikan aturan-uturan untuk diikuti asisten dengan baik. Coba bayangkan bila sang asiten tidak taat pada pilot, berdalih bahwa sang asisten itu tidak dibawah pilot, ia juga mempunyai ijazah seperti halnya pilot, ilmunya juga tidak kalah dengan pilot, maka apa yang akan terjadi dengan pesawat yang sedang terbang di udara ?!.

Begitu pula dengan bahtera Rumah Tangga, suami menjadi Qowwam dan pemimpin di dalamnya. Suami berhak untuk ditaati, kewajiban sang istri yang sholehah taat kepadanya selama dalam bingkai kemakrufan. Taat yang tidak buta, tetapi taat selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.

“Jika aku dibolehkan untuk menyuruh seseorang bersujud kepada selain Allah, maka aku akan memerintahkan kepada seorang istri untuk bersujud kepada suaminya, dan demi Dzat yang Jiwa Muhammad berada di-tanganNya, seorang istri belum memenuhi hak-hak Tuhannya hingga ia memenuhi hak-hak suaminya, hingga jika sang suami memintanya, sedangkan ia berada di dapur.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Albani).

Adapun jika perintah bertentangan dengan syariat, ataupun dalam maksiyat, maka tiada ketaatan di dalamnya. Dalam kasus ini , maka istri tidak boleh mentaatinya. Karena tiada ketaatan kepada makhluk untuk bermaksiat kepada Sang Kholiq.

Ketaatan kepada suami merupakan suatu kewajiban, meskipun suami seorang yang miskin, atau mungkin istri lebih berpangkat dari suaminya. Ia sudah selayaknya berlaku ihsan dalam mengerjakan urusan-urusan yang berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga. Karena hal ini juga termasuk dalam “taat kepada suami”.

baca uga :