Kejayaan Turki Utsmani (Bidang Keagamaan & Militer)
Posted in: Agama

Kejayaan Turki Utsmani (Bidang Keagamaan & Militer)

Kejayaan Turki Utsmani (Bidang Keagamaan & Militer)

Kejayaan Turki Utsmani (Bidang Keagamaan & Militer)
Kejayaan Turki Utsmani (Bidang Keagamaan & Militer)

Kejayaan Turki Utsmani dialami pada abad ke-16. Ketika dinasti Turki Utsmani mencapai kejayaan ini, daerah kekuasaannya membentang dari selat Persia di Asia sampai ke pintu gerbang kota Wina di Eropa dan dari laut Gaspinne di Asia sampai ke Aljazair di Afrika Barat. Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Turki Utsmani yang demikian luas dan berlangsung dengan cepat itu diikuti pula oleh kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam aspek peradabannya.

1. Bidang keagamaan

Dalam tradisi rakyat Turki, agama menjadi faktor penting dalam transformasi sosial dan politik seluruh masyarakat. Pemerintah sendiri sangat terikat dengan syari’at Islam sehingga fatwa ulama’ menjadi hukum yang berlaku.
Kemajuan dalam bidang keagamaan pada Turki Utsmani terlihat dari tumbuh suburnya kelompok-kelompok tarekat. Di antara tarekat-tarekat yang berkembang pesat di wilayah kekuasaan Turki Utsmani adalah tarekat Bektasyi dan tarekat Maulawi. Kedua tarekat ini banyak dianut oleh masyarakat Turki, baik dari kalangan sipil maupun militer.

2. Bidang Pemerintahan dan Militer

Para pemimpin kerajaan Utsmani pada masa-masa awal memang orang-orang yang kuat, sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas. Meskipun demikian, kemajuan kerajaan Utsmani sampai masa keemasannya bukan semata-mata karena keunggulan politik para pemimpinnya. Masih banyak faktor lain yang mendukung keberhasilan ekspansi tersebut. Yang terpenting di antaranya adalah keberanian, keterampilan, ketangguhan dan kekuatan militernya yang sanggup bertempur kapan saja.

Kekuatan militer kerajaan ini mulai diorganisasi dengan baik dan teratur ketika terjadi kontak senjata dengan Eropa. Pengorganisasian yang baik dan strategi tempur militer Utsmani berlangsung dengan baik. Pembaruan dalam tubuh organisasi militer oleh Orkhan bin Utsmân I sangat berarti. Bangsa-bangsa non-Turki dimasukkan sebagai anggota, bahkan anak-anak Kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit.

Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Yenisseri atau Inkisyariah. Pasukan inilah yang mengubah Turki Utsmani menjadi mesin perang yang paling kuat dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukan negeri-negeri nun-muslim di timur yang berhasil dengan baik.

Di samping Yenisseri, ada lagi prajurit dari tentara kaum feodal yang dikirim kepada pemerintah pusat. Pasukan ini disebut tentara atau kelompok militer Thaujiah. Angkatan laut pun dibenahi, karena ia memiliki peranan yang besar dalam perjalanan ekspansi Turki Utsmani. Pada abad ke-16 angkatan laut Turki Utsmani mencapai puncak kejayaannya. Kekuatan militer Turki Utsmani yang tangguh itu dengan cepat dapat menguasai wilayah yang sangat luas, baik di Asia, Afrika, maupun Eropa. Faktor utama yang mendorong kemajuan di lapangan militer ini adalah tabiat bangsa Turki itu sendiri yang bersifat militer, disiplin, dan patuh terhadap peraturan. Tabiat ini merupakan tabiat alami yang mereka warisi dari nenek moyangnya di Asia Tengah.

Walaupun kerajaan Turki Utsmani ini sempat diporak-porandakan oleh Timur Lenk pada masa akhir pemerintahan Bayazîd I bin Murâd I (1402 M). Timur Lenk sengaja bergerak mengincar Bayazîd I. Pada bulan Juli, dia mengalahkan pasukan Utsmani di perang Ankara, kemenangan terbesar Timur Lenk. Ini adalah satu-satunya saat dalam sejarah Dinasti Utsmani, seorang Sultan ditangkap dan meninggal dunia di tahanan pada tahun berikutnya.

Namun Turki Utsmani mampu bangkit lagi.
Pada masa Sultan Murâd III (1574 – 1595 M) kerajaan Utsmani pernah berhasil menyerbu Kaukasus dan menguasai Tiflis di Laut Hitam (1577 M), merampas kembali Tibris, ibu kota kerajaan Safawi, menundukkan Georgia, mencampuri urusan dalam negeri Polandia, dan mengalahkan gubernur Bosnia pada tahun 1593 M.

Keberhasilan ekspansi tersebut dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemerintahan yang teratur. Dalam mengelola pemerintahan yang luas, sultan-sultan Turki Utsmani senantiasa bertindak tegas.[21]Dalam struktur pemerintahan, sultan sebagai penguasa tertinggi dibantu oleh Shadral-A’dhom (perdana menteri) yang membawahi Pasya (gubernur). Gubernur mengepalai daerah tingkat I. Di bawahnya terdapat beberapa orang as-Zanâziq atau al-Alawiyah (bupati).
Untuk mengatur urusan pemerintahan negara, di masa Sultan Sulaimân I disusun sebuah kitab Undang-Undang (Qân ). Kitab tersebut diberi nama Multaqa al-Abhur, yang menjadi pegangan.

Baca Juga: