HUKUM KHALWAT
Posted in: Agama

HUKUM KHALWAT

HUKUM KHALWAT

 

HUKUM KHALWAT
HUKUM KHALWAT

 

Hadits

Bismillahirrahmanirrahim

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ أَبِي مَعْبَدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ امْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً وَاكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا قَالَ ارْجِعْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah Telah menceritakan kepada kami Sufyan, Telah menceritakan kepada kami Amru, dari Abu Ma’bad, dari Ibnu Abbas, dari Nabi saw, beliau bersabda : Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani muhrimnya. Lalu seorang laki-laki bangkit seraya berkata, Wahai Rasulullah, isteriku berangkat hendak menunaikan haji sementara aku diwajibkan untuk mengikuti perang ini dan ini. beliau bersabda : Kalau begitu, kembali dan tunaikanlah haji bersama isterimu. (HR. Bukari No. 4935)

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبةوزهير بن حرب كلاهما عن سفيان قال أبو بكر حدثناسفيان بن عيينة حدثنا عمرو بن دينار عن أبي معبدقال سمعت ابن عباس يقول سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يخطب يقول لا يخلون رجل بامرأة إلا ومعها ذو محرم ولا تسافر المرأة إلا مع ذي محرمفقام رجل فقال يا رسول الله إن امرأتي خرجت حاجة وإني اكتتبت في غزوة كذا وكذا قال انطلق فحج مع امرأتك

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb keduanya, dari Sufyan, Abu Bakr berakata : Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah, Telah menceritakan kepada kami Amru bin Dinar, dari Abu Ma’bad, ia berkata : saya mendengar Ibnu Abbas berkata : Saya mendengar Nabi saw berkhutbah seraya bersabda : Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali wanita itu disertai muhrimnya, Dan seorang wanita juga tidak boleh bepergian sendirian, kecuali ditemani oleh mahramnya. Tiba-tiba berdirilah seorang laki-laki dan bertanya, Ya Rasulullah, sesungguhnya isteriku hendak menunaikan ibadah haji, sedangkan aku ditugaskan pergi berperang ke sana dan ke sini, bagaimana itu? Rasulullah saw pun menjawab : Pergilah kamu haji bersama isterimu. ( HR. Muslim No. 2391 )

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi’ah, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir bin Abdullah berkata : Rasulullah saw bersabda :

َمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَخْلُوَنَّ بِامْرَأَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ مِنْهَا فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, janganlah menyendiri dengan seorang wanita yang tidak ada bersamanya seorang mahramnya karena yang ketiganya setan. ( HR. Ahmad No. 14124 ).

Haram berkhalwat (berduaan) dengan seorang wanita ajnabiah dan dibolehkannya berkholwat seorang wanita dengan mahramnya, dan pertemuan yang tidak diamankan terjadinya kecurigaan kearah zina secara kebiasaan tapi jika dipastikan tidak akan terjadi hal yang demikian secara kebiasaannya maka tidak dinamai khalwat. Percampurnya wanita dan pria asalkan tidak terjadi khalwat tidak diharamkan. percampuran (ikhilat) antara pria dan wanita dalam suatu tempat itu berbeda-beda berdasarkan pada sesuai tidaknya dengan kaidah syariah.

Hukumnya haram apabila

(a) Terjadi kholwat antara laki-laki dan perempuan bukan mahram dan timbul syahwat saat melihatnya. (b) Perempuan berperilaku bebas dan tidak menjaga sikap santun. (c) Untuk tujuan main-main dan bersenang-senang dan terjadi persentuhan kulit seperti percampuran dalam pernikahan, festival dan pameran.

Percampuran antara pria wanita seperti yang digambarkan di atas hukumnya haram karena menyalahi kaidah syariah Islam. Begitu juga ulama fiqih sepakat atas keharaman menyentuh perempuan bukan mahram kecuali apabila menyentuh wanita tua yang tidak menimbulkan syahwat maka dibolehkan untuk bersalaman (jabat tangan).

Ibnu Farhun berkata: Percampuran laki-laki dan perempuan pada acara akad nikah maka tidak diterima kesaksian satu dengan yang lain apabila terdapat sesuatu yang diharamkan syariah karena dengan kehadiran para wanita pada tempat ini maka gugurlah sikap adil mereka. Dikecualikan dari percampuran yang diharamkan apa yang dilakukan dokter atau tabib saat melihat atau menyentuh pasiennya karena termasuk darurat sedangkan darurat itu menghalalkan perkara yang dilarang.

Percampuran pria wanita dibolehkan apabila

terdapat kebutuhan yang disyariatkan serta tetap menjaga prinsip syariah. Oleh karena itu, wanita boleh keluar untuk shalat berjamaah dan sholat Hari Raya (Idul Fitri atau Idul Adha). Sebagian ulama membolehkan keluarnya perempuan untuk melaksanakan ibadah haji bersama laki-laki yang dapat dipercaya. Begitu juga, boleh bagi wanita untuk bermuamalah (melakukan transaksi) dengan laki-laki dalam bentuk jual beli, perniagaan, dan lain-lain. Imam Malik pernah ditanya tentang wanita tua yang tidak kawin menemui laki-laki lalu mengutarakan keperluannya dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Apakah hal itu baik? Imam Malik berkata: Tidak apa-apa namun seandainya dia ditemani oleh yang lain itu akan lebih baik kalau dia ditinggal oleh orang niscaya dia akan hilang. Ibnu Rushd berkata: Ini bagi yang berpendapat apabila laki-laki itu menutup penglihatannya dari sesuatu (aurat) yang tidak boleh dilihat.

Sumber: www.dutadakwah.org