Etika Kedokteran
Posted in: Pendidikan

Etika Kedokteran

Etika Kedokteran

Etika Kedokteran

Dalam praktek pengobatan dan perawatan

pada pasien perlu diterapkan etika. Para dokter harus memiliki sikap tersebut dalam menjalankan profesinya itu. Karena itu sangat berpengaruh pada keberhasilannya dalam menyembuhkan pasien. Selain sikap itu khusus untuk menjaga nama baik atau keprofesiolan seorang dokter, sikap-sikap etis dokter juga berkaitan dengan psikologi pasien. Bagaimana seorang dokter mampu menciptakan suasana, menciptakan rasa percaya diri untuk sembuh dan sebagainya.

Profesi dokter yang disandang seseorang, sangat terhormat di mata pasiennya. Oleh karena itu untuk menjaga kehormatan, nama baik maupun keharmonisan antara dokter dan pasiennya, perlu diterapkan sikap-sikap etis yang diemban para dokter. Berangkat dari situ, tradisi kedokteran pada era kejayaan Islam menetapkan peraturan atau kode etik harus diemban oleh para dokter. Hingga era kekhalifahan Usmani peraturan berjalan sangat ketat. Para dokter muslim diwajibkan memgang teguh etika kedokteran dalam mengobati pasiennya.

Akdeniz (sari) N mengatakan dalam karyanya. Osmanlilarda Hekim ve Hekimlik Ahlaki (Dokter Ottoman dan Etika Kedokteran), “setiap dokter harus mematuhi etika kedokteran dalam setiap tindakannya”.  Menurut Islam secara garis besar ada empat hal yang harus dipegang teguh oleh para dokter di era kekhalifahan Turki Usmani, yaitu kesederhanaan/kesopanan, kepuasan, harapan dan kesetiaan. Akdeniz juga berpendapat berdasarkan catatan para tokoh di zaman Turki Usmani, etika kedokteran mengatur dokter saat berinteraksi dengan pasiennya.

Nilai kesopanan dalam kutipan Akdeniz, tercermin dari sikap seorang dokter bijak abad 16 M zaman Turki Usmani yang bernama Nidai. Nidai menasehati pasiennnya ketika memuji dirinya setelah berhasil menyembuhkan, bahwa Allah-lah yang sebenarnya menyembuhkan. Nilai kesetiaan disarankan dokter terkemuka era Turki, Vesim Abbas bahwa dokter harus setia dengan pasien dalam pengobatannya walaupun pasien bertindak tidak baik.

Dalam nilai kepuasan ia juga menuturkan bahwa seorang dokter harus merasa puas terhadap keberhasilannya mengobati dan menyembuhkan pasien tanpa ambisi mendapatkan uang. Begitu juga rasa optimism, seorang dokter tidak boleh menyebabkan pasiennya mengalami keputusasaan. Seperti yang diajarkan dokter abad 15 M, Ibnu Shareet, dokter harus mengembangkan dan menumbuhkan rasa optimisme para pasienya bahkan .bahkan tidak boleh memberitahukan terkait kematiannya.

Tapi dalam karyanya “Tip Deontolojisi” Prof. Nil tampaknya menunjukkan kesayangan menurut Prof. Nil dizaman modern ini telah terjadi perubahan  yang begitu besar.  Akibat besarnya perkembangan pengetahuan dan tekhnologi medis. Akibatnya nilai-nilai moral yang dipegang teguh dokter  mulai terkikis dan tergantikan  dengan nilai-nilai baru.  Berbeda dengan ungkapan  Beauchamp LT dalam karya Chldress FJ: Principlees of Biomedical Ethies, pada abad ke-20 M, kemajuan besar telah dicapai dibidang studi etika medis.  Etika medis saat ini  terkonsentrasi pada pemecahan pilihan  moral sesuai dengan prinsip-prinsip etika dan peraturannya.


Baca Juga: