Madzahib Al-Tafsir tentang Tafsir Corak Adaby Al-Ijtima`i

Madzahib Al-Tafsir tentang Tafsir Corak Adaby Al-Ijtima`i

Madzahib Al-Tafsir tentang Tafsir Corak Adaby Al-Ijtima`i

Madzahib Al-Tafsir tentang Tafsir Corak Adaby Al-Ijtima`i
Madzahib Al-Tafsir tentang Tafsir Corak Adaby Al-Ijtima`i

Pengertian Tafsir Adaby Al-Ijtima`i

Al-adabi wa al-ijtima’i terdiri dari dua kata, yaitu al-adabi dan al-ijtima’i. Corak tafsir yang memadukan filologi dan sastra (tafsir adabi), dan corak tafsir kemasyarakatan. Corak tafsir kemasyarakatan ini sering dinamakan juga ijtima’i.[3]
Kata al-adaby dilihat dari bentuknya termasuk mashdar (infinitif) dari kata kerja (madhi) aduba, yang berarti sopan santun, tata krama dan sastra. Secara leksikal, kata tersebut bermakna norma-norma yang dijadikan pegangan bagi seseorang dalam bertingkah laku dalam kehidupannya dan dalam mengungkapkan karya seninya. Oleh karena itu, istilah al-adaby bisa diterjemahkan sastra budaya. Sedangkan kata al-ijtima’iy bermakna banyak bergaul dengan masyarakat atau bisa diterjemahkan kemasyarakatan. Jadi secara etimologis tafsir al-adaby al-Ijtima’i adalah tafsir yang berorientasi pada satra budaya dan kemasyarakatan, atau bisa di sebut dengan tafsir sosio-kultural.

Berbagai model tafsir yang sudah mulai berkembang di Zaman modern ini adalah tafsir al-Adabi wa al-Ijtima’iy. Model tafsir ini adalah tafsir yang pembahasannya lebih menekankan pada aspek-aspek sastra, budaya, dan kemasyarakatan. Definisi secara terminologis tafsir jenis ini dirinci dan di uraikan oleh para ahli sebagai berikut. Di antaranya menurut Dr. Muhammad Husai al-Dzahabi mengatakan tafsir al-Adaby wa al-Ijtima’iy adalah tafsir yang menyingkapkan balaghah, keindahan bahasa al-Quran dan ketelitian redaksinya, kemudian mengaitkan kandungan ayat-ayat alQuran dengan sunatullah dan aturan hidup kemasyarakatan, yang berguna untuk memecahkan problematika umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya.

Sedangkan Manna’ Qathan memberikan definisi: “Tafsir yang diperkaya dengan riwayat salaf al-Ummah dan dengan urayan tentang sunatullah yang berlaku dalam masyarakat. Menguraikan gaya alQuran yang pelik dengan menyingkapkan maknanya dengan ibarat-ibarat yang mudah serta berusaha menerangkan maslah-masalah yang musykil dengan maksud untuk mengembalikan kemuliaan dan kehormatan Islam serta mengobati penyakit masyarakat dengan petunjuk alQuran.”

Tokoh Tafsir Adaby Al-Ijtima`i

Mengenai penafsiran Alquran kontemporer adalah upaya melahirkan konsep-konsep Qur’ani sebagai jawaban terhadap tantangan dan problematika kehidupan modern dan upaya mempertemukan antara Qur’an dan sains modern yang selalu berkembang dengan cepat dalam batas yang wajar dan ditoleransi oleh islam, dengan motifasi lebih menegaskan I’jaz ilmi Alquran. Dalam bidang kemasyarakatan dan politik, maka tafsir yang sangat banyak dipelajari adalah tafsir yang terbit pada abad ke XIX dan XX.
Seperti kitab-kitab tafsir yang di tulis berdasarkan metode ini, antara lain:
ü Tafsir Al-Manar, oleh Rasyid Ridha (w. 1345 H)
ü Tafsir Al-Maraghi, oleh Syekh Muhammad Al-Maraghi (w. 1945 M)
ü Tafsir Alquran Al-Karim, karya Al-Syekh Mahmud Syaltut
ü Tafsir Al-Wadhih, karya Muhammad Mahmud Baht Al-Hijazi.
Literatur Tafsir Alquran Di Indonesia Dari Segi Metode, Nuansa dan Pendekatan tafsir.
Ø Tafsir bi al-Ma’tsur Pesan Moral Alquran, Karya Jalaluddin Rahmat.
Ø Tafsir Juz ‘amma Disertai Asbab al-Nuzul, Karya Rafi’uddin dan Edham Syifa’i.
Ø Tafsir Al-Mishbah, kesan dan keserasian Alquran.
Ø alquran Al-Karim, Tafsir atas surat-surat pendek Berdasarkan urutan Turunnya Wahyu.
Ø Wawasan Alquran, karya M. Quraish Shihab.
Ø Menyelami Kebebasan Manusia, Telaah Kritis Terhadap Konsepsi Alquran, karya Mahasin.
Ø Konsep Perbuatan Manusia Menurut Alquran, Karya Jalaludin Rahman
Ø Manusia Pembentuk Kebudayaan Dalam Alquran, Karya Musa Asy’ari.

Baca Juga: Sayyidul Istigfar

Karakteristik Corak Penafsiran Adabi Ijtima`i

Karakteristik Corak penafsiran pada aliran tafsir ini meliputi beberapa hal pokok yaitu;
Pertama, memandang bahwa setiap surat merupakan satu kesatuan, ayat-ayatnya mempunyai hubungan yang serasi. Salah satu yang menonjol dalam tafsir ini adalah berusah membuktikan bahwa ayat-ayat dan surat dalam alQuran merupakan satu kesatuan yang utuh.

Kedua, keumuman kandungan al-Quran. Menurut Muhammad Abduh, kandungan al-Quran bersifat universal dan berlaku terus sampai hari kiamat. Di dalamnya terdapat pelajaran-pelajaran, janji dan ancaman, berita gembira dan siksa, serta ajaran tentang aqidah, akhlak dan ibadah yang dapat berlaku semua umat dan bangsa, bukan umat tertentu saja.
Ketiga, al-Quran sumber utama aqidah dan syariat Islam. Untuk menetapkan suatu ketetapan hukum harus kembali kepada sumber yang pertama yaitu al-Quran. Muhammad Abduh sebagai tokoh utama aliran tafsir ini mengecam sementara mufassir yang menganggap bahwa sebagian ayat alQuran musykil hanya tidak sejalan dengan pendapat aliran (mazhabnya).
Keempat, menerangi taklid buta. Salah satu corak dari tafsir ini adalah berusaha menghilangkan taklid buta dalam masyarakat Islam, karena dianggap menyebabkan umat Islam beku, tidak dinamis dan tidak mencerdaskan masyarakat. Penggunaan daya pikir atau nalar dan metode ilmiah. Di dalam al-Quran terdapat sejumlah ayat yang mengajak manusia melakukan nadzar (pengamatan) terhadap alam semesta serta mengambil pelajaran dari pertanda kekuasaan Allah di alam semesta ini dan keajaiban pencipta-Nya.a