Etika dalam Bercanda

Etika dalam Bercanda

Etika dalam Bercanda

Etika dalam Bercanda
Etika dalam Bercanda

 

4 Etika Bercanda

1. Hendaknya percandaan tidak mengandung nama Allah, ayat-ayatNya, Sunnah RasulNya atau syi’ar-syi’ar islam

Karena Allah telah berfirman tentang orang-orang yang memperolok-olok sahabat Nabi, yang ahli baca al-Qur’an, yang artinya, “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman (QS. At Taubah : 65-66)

2. Hendaknya percandaan itu adalah benar tidak mengandung dusta

Dan, hendaknya pecanda tidak mengada cerita khayalan supaya orang lain tertawa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Celaka bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah.” (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani)

3. Hendaknya percandaan tidak mengandung unsur menyakiti perasaan salah seorang di antara manusia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kamu mengambil barang temannya, apakah itu ia niatkan sebagai candaan maupun sungguh-sungguh; dan jika ia telah mengambil tongkat temannya, maka ia harus mengembalikannya kepadanya.” (HR. Ahmad dan Abu dawud. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)

4. Hendaknya anda tidak memperbanyak canda hingga menjadi tabiatmu, dan jatuhlah wibawamu dan akibatnya kamu mudah dipermainkan oleh orang lain.

(Aadaabu al-Muslim Fii al-Yaumi Wal Lailah, 24 Adaban Mutanawwi’an, Departeman Ilmiah darul Wathan, dengan gubahan)

Baca Juga: