Teori Ekologi Populasi

Teori Ekologi Populasi

Teori Ekologi Populasi

Teori Ekologi Populasi
Teori Ekologi Populasi

Teori Ekologi Populasi membahas perubahan organisasi sebagai fungsi dari kekuatan-kekuatan lingkungan pada populasi organisasi, khususnya pada proses pembentukan dan kegagalan organisasi. Pandangan Ekologi Populasi tersebut menentang pendapat Teori Kontijensi Struktural yang menyatakan bahwa proses adaptasi dilakukan pada level individu organisasi. Bagi Teori Ekologi Populasi adaptasi terjadi pada level populasi melalui proses lahir (birth) dan mati (death). Oleh sebab itu proses adaptasi yang dijalankan oleh organisasi sebetulnya lebih merupakan proses seleksi alam menurut Donaldson dalam “Teori Organisasi” (Gudono: 2009).

Berikut ini adalah beberapa konsep yang lazim ditemui dalam tulisan-tulisan mengenai Teori Ekologi Populasi:

(a) Structural inertia.

Structural inertia adalah kecenderungan organisasi untuk mempertahankan struktur internalnya apapun yang terjadi pada fakor lainlainnya. Jadi sebenarnya konsep ini merujuk pada ketidakmampuan suatu organisasi untuk beradaptasi dengan lingkungannya: semakin kuat tekanan structural inertia, semakin rendah fleksibilitas adaptif organisasi tersebut. Teori structural inertia menyatakan bahwa proses perubahan akan menciptakan masalah reorganisasi internal dan legimitasi eksternal menurut Hannan dan Freeman dalam “Teori Organisasi” (Gudono: 2009).

(b) Liability of newness

Liability of newness berunjuk pada kenyataan bahwa risiko mati (bangkrut) organisasi yang masih baru adalah tinggi dan risiko ini akan menurut sejalan dengan bertambahnya usia perusahaan menurut Stinchombe dalam “Teori Organisasi” (Gudono: 2009)

(c) Liability of smallness.

Liability of smallness merujuk pada kecenderungan menurunnya tingkat kematian (mortality rate) sejalan dengan semakin besarnya ukuran organisasi. Ada dugaan mengapa hal ini bisa terjadi, yaitu karena organisasi-organisasi besar umumnya memiliki akuntabilitas, reliabilitas dan legitimasi yang juga lebih besar.

(d) Niche width theory.

Niche width theory menyatakan bahwa populasi organisasi menempati niche yang sama dalam arti bahwa mereka tergantung pada sumber daya lingkungan yang identik. Jika dua populasi organisasi menempati niche yang sama tapi berbeda dalam hal karakteristik organisasi, maka populasi yang memiliki kecocokan yang lebih kecil dengan karakteristik lingkungan akan dieliminasi.

(e) Generalist population dan specialist population.

Terkait dengan niche width theory teori Ekologi populasi menyatakan bahwa generalist population tergantung pada rentang niche yang lebar sumber daya lingkungan. Keadaan ini akan memaksimalkan eksplorasi tetapi akan meningkatkan risiko. Sebaliknya specialist population tergantung pada kondisi lingkungan yang spesifik atau rentangan niche yang sempit dan hal tersebut akan memungkinkan organisasi di dalamnya untuk makmur dari pemanfaatan niche khusus tersebut. Perbedaan karakteristik keluasan rentangan niche ini akan berpengaruh pada strategi organisasi yang ada di dalamnya.

Baca juga: PPKI

(f) Density dependence. Density dependence menyatakan bahwa legimitasi dan kompetisi bergantung pada tingkat kepadatan populasi. Pada waktu tingkat kepadatan rendah, proses legitimasi mendominasi dan hal ini akan meningkatkan tingkat kelahiran dan menurunkan kematian organisasi. Pada waktu tingkat kepadatan tinggi, kompetisi akan mendominasi dan hal ini akan menurunkan tingkat kelahiran dan meningkatkan tingkat kematian organisasi.

Ada beberapa asumsi dasar yang digunakan dalam pembahasan-pembahasan. Teori Ekologi Populasi menurut Robbins dalam “Teori Organisasi” (Gudono: 2009). Pertama, teori ini memusatkan pada kelompok atau populasi organisasi, bukan sebuah organisasi. Kedua, teori ini mendefinisikan efektivitas organisasi semata-mata sebagai survival (mampu bertahan hidup). Ketiga, lingkungan sangat menentukan dan manajemen memiliki pengaruh yang kecil terhadap kemampuan organisasi untuk bertahan hidup. Keempat, kapasitas (daya dukung/carriying capacity) lingkungan adalah terbatas.