TANTANGAN BIDANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

TANTANGAN BIDANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

TANTANGAN BIDANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

TANTANGAN BIDANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN
TANTANGAN BIDANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

Hakekat Perumahan dan Permukiman

Penyamaan persepsi mengenai hakekat perumahan dan permukiman masih
menjadi tantangan yang mendasar, mengingat bahwa berbagai persoalan
penyelenggaraan perumahan dan permukiman sesungguhnya muncul dari
adanya perbedaan sudut pandang para pelaku pembangunan tentang hakekat
dan makna perumahan dan permukiman itu sendiri. Hal tersebut tercermin
antara lain dari kebijakan dan strategi operasional yang dipilih oleh masingmasing
pelaku, dan tidak mudah untuk secara efektif dapat dikoordinasikan.
Kebijakan dan strategi nasional penyelenggaraan perumahan dan permukiman
sangat bertumpu pada falsafah dan hakekat perumahan dan permukiman itu
sendiri, yang antara lain adalah sebagai berikut:

1. Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia disamping pangan,
sandang, pendidikan dan kesehatan. Selain berfungsi sebagai pelindung
terhadap gangguan alam/cuaca dan makhluk lainnya, rumah juga memiliki
peran sosial budaya sebagai pusat pendidikan keluarga, persemaian budaya
dan nilai kehidupan, penyiapan generasi muda, dan sebagai manifestasi
jatidiri. Dalam kerangka hubungan ekologis antara manusia dan
lingkungannya maka terlihat jelas bahwa kualitas sumber daya manusia di masa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh kualitas perumahan dan permukimannya.

2. Pembangunan perumahan diyakini juga mampu mendorong lebih dari
seratus macam kegiatan industri yang berkaitan dengan bidang perumahan
dan permukiman, sehingga penyelenggaraan perumahan dan permukiman sangat berpotensi di dalam menggerakkan roda ekonomi dan upaya
penciptaan lapangan kerja produktif. Sebaliknya kegiatan industripun
semestinya dapat dilihat sebagai titik tolak untuk menangani permasalahan
perumahan dan permukiman, terutama di kawasan-kawasan yang
berkembang sebagai sentra atau koridor industri. Produktivitas dan
efisiensi industri seyogyanya juga dapat ditingkatkan secara seimbang dan
selaras dengan penanganan permasalahan perumahan dan permukiman
bagi para pekerja industri.

3. Bagi banyak masyarakat Indonesia terutama golongan menengah ke bawah,
rumah juga dapat merupakan barang modal (capital goods), karena dengan asset rumah ini mereka dapat melakukan kegiatan ekonomi di dalam mendukung kehidupan dan penghidupannya. Karenanya, permasalahan perumahan dan permukiman tidak dapat dipandang
sebagai permasalahan fungsional dan fisik semata, tetapi lebih kompleks lagi
sebagai permasalahan yang berkaitan dengan dimensi kehidupan
bermasyarakat yang meliputi aspek sosial, ekonomi, budaya, teknologi, ekologi
maupun politik. Perbedaan-perbedaan sudut pandang yang ada sesungguhnya
bukan untuk dipertentangkan, tetapi sebagai suatu upaya untuk memperkaya
tinjauan agar dapat lebih memandang persoalan perumahan dan permukiman
secara lebih holistik. Kesadaran akan adanya keragaman tersebut penting,
karena hal tersebut dapat melahirkan alternatif-alternatif strategi
penyelenggaraan di bidang perumahan dan permukiman untuk menuju Visi
yang diinginkan.

Baca Juga :