KOMPONEN SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI

KOMPONEN SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI

KOMPONEN SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI

KOMPONEN SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI
KOMPONEN SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI

pada prinsipnya menurut Houghton (1977) sistem temu kembali informasi adalah penelusuran yang merupakan interaksi antara pemakai dan sistem dan pernyataan kebutuhan pengguna diekspresikan sebagai suatu istilah tertentu. Selanjutnya dinyatakan bahwa komponen fundamental dari sistem temu kembali informasi adalah sebagai berikut:

  • penyimpanan (storage), yaitu menyangkut analisis subjek oleh pengindeks dan penerjemahan dari istilah ke dalam bahasa pengindeksan oleh sistem.
  • proses temu kembali (retrieval), yaitu berkaitan dengan analisis dan pernyataan penelusuran; penerjemahan pertanyaan dalam bahasa pengindeksan oleh sistem; serta formulasi dari strategi penelusuran diekspresikan sebagai suatu istilah tertentu.

Lancaster (1979) dan Doyle (1975) memandang sistem temu-kembali informasi dalam konteks siklus transfer informasi, mengatakan bahwa suatu sistem temu-kembali informasi merupakan subsistem (tahap luaran) dari sistem informasi. Lancaster juga mengatakan bahwa sistem temu-kembali informasi terdiri dari enam subsistem:

  • Subsistem dokumen;
  • subsistem indexing;
  • subsistem kosa kata;
  • subsistem penelusuran;
  • antar-muka (interface) pemakai dengan sistem;
  • subsistem penyesuaian/pencocokan.

Dokumen sebagai objek data dalam Sistem Temu Kembali Informasi merupakan sumber informasi. Dokumen biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks atau kata kunci. Kata kunci dapat diekstrak secara langsung dari teks dokumen atau ditentukan secara khusus oleh spesialis subjek dalam proses pengindeksan yang pada dasarnya terdiri dari proses analisis dan representasi dokumen.

Pengindeksan dilakukan dengan menggunakan sistem pengindeksan tertentu, yaitu himpunan kosa kata yang dapat dijadikan sebagai bahasa indeks sehingga diperoleh informasi yang terorganisasi. Sementara itu, pencarian diawali dengan adanya kebutuhan informasi pengguna.

Dalam hal ini Sistem Temu Kembali Informasi berfungsi untuk menganalisis pertanyaan (query) pengguna yang merupakan representasi dari kebutuhan informasi untuk mendapatkan pernyataan-pernyataan pencarian yang tepat.

Selanjutnya pernyataan-pernyataan pencarian tersebut dipertemukan dengan informasi yang telah terorganisasi dengan suatu fungsi penyesuaian (matching function) tertentu sehingga ditemukan dokumen atau sekumpulan dokumen.

Ada persamaan antara penjelasan dari Lancaster (1979) dengan Tague-Sutcliffe (1996), hanya saja ada sedikit perbedaaan yaitu pada komponen penilaian relevansi. Lebih jelasnya, Tague-Sutcliffe (1996) melihat Sistem Temu Kembali Informasi sebagai suatu proses yang terdiri dari 6 (enam) komponen utama yaitu:

  • Kumpulan dokumen
  • Pengindeksan
  • Kebutuhan informasi pemakai
  • Strategi pencarian
  • Kumpulan dokumen yang ditemukan
  • Penilaian relevansi

Secara garis besar komponen-komponen Sistem Temu Kembali menurut Tague-Sutcliffe (1996) dapat diilustrasikan seperti gambar berikut:

Pada intinya menurut Di Nubila (1994) dalam sistem temu kembali informasi terdapat tiga komponen utama yang saling mempengaruhi, yaitu:

  • kumpulan dokumen;
  • kebutuhan informasi pengguna;
  • proses pencocokan (matching) antara keduanya

secara garis besar menurut Hasibuan (1996) bisa juga dikatakan bahwa komponen sistem temu kembali informasi terdiri dari:

  • pemakai (user), adalah poin utama dari semua sistem temu kembali informasi, karena tujuan utama dari setiap penyimpanan informasi adalah menemukan kembali informasi dari sumbernya (database) kepada pemakai.
  • dokumen, Struktur dokumen dalam suatu basis data elektronis memegang peranan penting dalam meningkatkan kinerja sistem temu kembali informasi. Stuktur tersebut dibentuk oleh berbagai ciri yang menjadi bagian dari suatu dokumen. Ciri-ciri tersebut meliputi : kata-kata indeks (Indeks terms), kata-kata bebas (Free text terms), pengarang, referensi (Cited documents), sitasi (Citing document), afiliasi pengarang,matcher-machine.

    Ada fungsi matcher-machine dalam sistem temu kembali informasi, yaitu:

  • Fungsi exact match, adalah pencocokan dimana representasi suatu pertanyaan persis sama atau harus sesuai dengan representase dokumen, agar dokumen tersebut dapat terambil (retrieved).
  • Fungsi partial match atau pencocokan sebagian, yaitu representasi pertanyaan hanya sebagian saja yang sama dengan representasi dokumen. Pencocokan sebagian ini dikenal dengan pemenggalan (truncation).

Komponen dasar sistem temu kembali informasi menurut Chowdury (1999) ada 3 yaitu:

  • Dokumen atau sumber informasi
  • Query atau Pemakai
  • Fungsi Pencocokan (matching function)

kumpulan dokumen yang ada dalam sistem diwakili oleh kata-kata kunci atau kata indeks sebagai pendekatan dalam penelusuran. Sedangkan query (permintaan) adalah rumusan pertanyaan yang dimasukkan ke sistem dan fungsi pencocokan di sini mempertemukan antara sumber informasi yang disimpan di sistem dengan permintaan pemakai.

Secara sederhana, penjelasan dari Di Nubila (1994), Hasibuan (1996) dan Chowdury (1999) hampir sama dengan yang digambarkan oleh Ingwersen (2002) sebagai ilustrasi model temu kembali informasi seperti gambar berikut:

“Representation” dari gambar di sebelah kiri menunjukkan representasi dokumen, data dan informasi. “Query” pada komponen sebelah ‘kanan merupakan representasi dari pertanyaan pengguna, serta “matching function” komponen yang di tengah merupakan fungsi pencocokan antara representasi data/dokumen dengan pertanyaan. Kemudian dalam “Temu lembali lnformasi” kurang lebih sama dengan penjelasan tentang prinsip temu kembali informasi menurut Houghton (1977), ilustrasi dari temu kembali informasi dapat digambarkan sebagai berikut:

Selanjutnya dalam “Sistem Temu kembali Informasi”, sebagai suatu sistem, sistem temu kcmbali informasi mcmiliki bcbcrapa bagian yang membangun sistem secara keseluruhan. Gambaran bagian-bagian yang terdapat pada suatu sistem temu kembali informasi hampir sama seperti penjelasan tentang subsistem temu kembali informasi menurut Lancaster (1979) dan Doyle (1975) yang digambarkan sebagai berikut:

  • Text Operations (operasi terhadap teks) yang meliputi pemilihan kata-kata dalam query maupun dokumen  dalam pentransformasian dokumen atau query menjadi terms index (indeks dari kata-kata).
  • Query Formulation (formulasi terhadap query) yang memberi bobot pada indeks kata-kata query.
  • Ranking, mencari dokumen-dokumen yang relevan terhadap query dan mengurutkan dokumen tersebut berdasarkan kesesuaiannya dengan query.
  • Indexing, membangun data indeks dari koleksi dokumen. Dilkakukan terlebih dahulu sebelum pencarian dokumen, sistem temu kembali informasi menerima query dari pengguna, kemudian melakukan perangkingan terhadap pada koleksi berdasarkan kesesuaiannya dengan query. Hasil perangkingan yang diberikan kepada pengguna merupakan dokumen yang sistem, relevan dengan query, namun relevansi dokumen terhadap suatu query merupakan penilaian pengguna yang subjektif dan dipengaruhi banyak faktor.

Untuk memahami Information retrieval, Chu (2003) menjelasakan bahwa pada prinsipnya, sistem temu kembali informasi memiliki beberapa komponen sebagai berikut:

  • Sebuah pangkalan data (database) sebagai tempat meletakkan dan menyimpan wakil dari dokumen atau informasi.
  • Sebuah mekanisme pencarian untuk menemukan apa yang sudah tersimpan di pangkalan data.
  • Seperangkat bahasa pencarian, yaitu bahasa yang digunakan manusia pengguna sistem dan yang dikenali oleh mesin komputer yang ia gunakan.
  • Sebuah antamuka (interface), yaitu segala sesuatu yang terlihat, terdengar, atau tersentuh oleh pengguna ketika dia melakukan pencarian informasi.

Sumber: https://fungsi.co.id/