Pemuda Dan Tradisi Bangsa Sendiri

Pemuda Dan Tradisi Bangsa Sendiri

Pemuda Dan Tradisi Bangsa Sendiri

Pemuda Dan Tradisi Bangsa Sendiri
Pemuda Dan Tradisi Bangsa Sendiri

Generasi muda bangsa Indonesia saat ini dihadapkan pada situasi dan kondisi yang sangat komplek.

Disamping perkembangan teknologi informasi yang semakin masif, serangan budaya bangsa luar dan lunturnya nilai-nilai tradisi bangsa sendiri.

Berbagai tantangan di era milenial ini diperlukan penanaman dan penguatan nilai-nilai tradisi bangsa dan nasionalisme pada diri generasi muda sedini mungkin. Jika tidak, maka jangan pernah bermimpi dengan kemajuan dan kesejahteraan rakyat Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945.

Demikian disampaikan Kabid Kepemudaan Disporaparbud dalam penyampaian materinya pada kegiatan Diklatsar Paskibra Sekolah, di SMKN 2 Purwakarta yang diselenggarakan oleh Pengurus Kabupaten Purna Paskibraka Indonesia (PPI), belum lama ini.

“Persiapkan diri kalian sedini mungkin sebagai calon-calon pemimpin bangsa. Penuhi hari-hari dengan ilmu pengetahuan,

teknologi dan keterampilan maupun keahlian sesuai minat dan bakat masing-masing. Jangan pernah melewatkan sedetikpun waktu dengan bermalas-malasan, hura-hura atau kegiatan yang jauh dari manfaat,” ujar Ahmad Arif Imamulhaq di hadapan ratusan peserta dari seluruh SMA/SMK/MA se Purwakarta.

Selain itu, mempelajari dan pertahankan tradisi budaya bangsa sendiri sangat penting. Tradisi yang menjadi ciri dan jati diri atau karakater ke-Indonesiaan kita.

“Contohlah bangsa Jepang, kemajuan dan kemoderenan tidak membuat mereka kehilangan jati dirinya sebagai bangsa. Sehebat apapun kemajuan yang dapat kita raih, tetaplah kita ini bangsa Indonesia. Bangsa yang kaya dengan segala tradisi, adat istiadat dan budayanya,” ujar Arif.

Sementara itu, salah seorang peserta diklatsar Maria Sonya Meidika Putri dari satuan SMAN 2 Purwakarta,

mengungkapkan bahwa dirinya merasa senang bisa mengikuti diklatsar dan bergabung dalam Paskibra.

“Awalnya saya tidak tertarik ikut kegiatan Paskibra karena takut kulit jadi hitam. Namun orang tua saya meminta agar saya masuk Paskibra. Jadi saya ingin membahagiakan orangtua dengan masuk Paskibra ini. Dan, saya ikut diklatsar juga sangat senang karena dapat menambah wawasan saya,” tutur Onya, begitu ia biasa disapa

 

Baca Juga :