Keguguran Menular (Brucellosis)

Keguguran Menular (Brucellosis)

Keguguran Menular (Brucellosis)

Keguguran Menular (Brucellosis)
Keguguran Menular (Brucellosis)

Penyakit ini adalah penyakit amat penting pada sapi dan tersifat

 dengan keguguran pada akhir kebuntir.gan diikuti oleh dngkat kemandulan tinggi. Penyakit ini disebabkan oleh Brucella abortus dan terjadi hampir di seluruh dunia, terutama pada sapi perah. Organisme tersebut dapat menginfeksi sapi semua umur dan mem-punyai predileksi di uterus bunting, ambing, testes dan kelenjar kelamin jantan, kelenjar limfe dan kapsul sendi. Sapi bunting tidak divaksinasi dan sangat peka.keguguran sesudah kebuntingan bulan kelima merupakan tanda penyakit sangat penting. Retensi plasenta dan metritis sering terjadi sesudah keguguran. Sapi jantan jarang terinfeksi, jika terinfeksi dapal menunjukkan gejala orchitis dan epididimitis. Perubahan pasca-mati tidak begitu penting untuk diagnosis

 

Diagnosis dari satu kasus keguguran sukar karena sangat mungkin

 ada berbagai macam sebab. Kebanyakan hewan yang terinfeksi oleh Brucella abortus dapat diidentifikasi dengan menggunakan uji serologik. Organisme dapat juga dipupuk dari janin yang gugur jika ada. Antibodi dapat ditemukan dalam serum, susu, air sisa keju, lendir vagina, atau plasma air mani. Uji aglutinasi atau fiksasi komplemen biasanya digu­nakan untuk mendeteksi antibodi tetapi uji ini tidak dapat dipercaya untuk 2-3 minggu sebelum atau sesudah keguguran atau kelahiran.

 

Pengobatan biasanya tidak berhasil.

Pengendalian dan pencegahan dilakukan dengan program vaksinasi. Sekali penyakit hampir terberantas, suatu program uji dan pembunuhan dilaksanakan untuk menyempurnakan pemberantasan penyakit.

Brucellosis adalah penyakit zoonosa untuk orang yang bekerja dengan sapi. Penyakit ini pada manusia disebut demam bergelombang (undulating fever) dan kebanyakan terjadi pada petani, pekeija daging dan dokter hewan. Penyakit ini dapat juga ditularkan melalui minum susu yang tidak dimasak.

 

Berak Putih

Menceret pada sapi dan kerbau umur di bawah 10 hari adalah salah satu penyakit yang paling sering dijumpai. Penyebabnya bermacam-macam, bisa makanan, kuman atau virus. Faktor seperti kekebalan pasif dari kolostrum, terlalu berdesak-dcsakan, perubahan cuaca, kualitas makanan dan kualitas pemeliharaan, semua mempengaruhi kepekaan hewan terhadap penyakit ini. Anak yang dilahirkan pada perkawinan pertama dapat tidak memperoleh antibodi cukup dari kolostrum.

 

Kuman Escherichia coli serotipe tertentu sering terlibat.

Dalam kelompok besar pedet, 75% dapat terkena dan 30% dapat mati. Kadang-kadang organisme ini juga menimbulkan septisemia. Bakteri ini menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan usus mengeluarkan cairan yang elektrolit. Ini menimbulkan dchidrasi, ketidakseimbangan elektrolit dan asidosis. Pada kasus berat kemudian terjadi kegagalan sirkulasi, shock dan kematian. Respon pedet terhadap toksin sangat mirip dengan reaksi manusia terhadap enterotoksin kolera.

Jika Escherichia coli sebagai penyebab penyakit, diagnosis relatif mudah. Organisme mudah dipupuk, diidentifikasi di laboratorium. Identifikasi Iain-lain penyebab lebih sukar dan dapat memerlukan pe-nelitian makanan dan uji virologis.

Pengobaten yang diberikan lergantung pada penyebab. Cara lain mcliputi penggantian makanan, penggantian cairan dan elektrolit, antibiotika dan mungkin menggunakan obat yang mengurangi gerakan usus.

Hampir tidak mungkin mengendalikan penyakit dengan sempurna karena penyebab bermacam-macam dan kompleks. Tetapi Blood et.al (1979) menganjurkan tiga prinsip untuk pengendalian yang efektif yaitu:

(1) Mengurangi tingkat eksposur pedet yang baru lahir terhadap pe­nyebab infeksi. Eksposur dikurangi dengan menyediakan fasilitas yang baik dan bersih di tempat pedet dilahirkan. Setiap pedet terinfeksi ha­ms segera dipisahkan dari pedet lain. Alat makanan harus dibersihkan benar-benar dan dikeringkan setiap hari. Harus dicegah hewan terlalu berdesak-desakan.

(2) Memberi ketahanan maksimum nonspesifik dengan kolostrum cukup dan cara berternak sebaik-baiknya. Pedet harus diberi kolostrum secepat mungkin sesudah lahir dan harus dalam 24 jam pertama. Idealnya pedet harus memperoleh paling sedikit 50-ml/Kg berat badan 2 jam pertama sesudah lahir. Jika pedet lambat menetek harus diberi kolostrum dengan pipa lambung.

(3) Meningkatkan ketahanan spesifik pada anak yang baru lahir de­ngan vaksinasi induk atau anak. Vaksinasi dilakukan dengan menggunakan bakteri yang dibunuh dengan formalin (formaiin-killed bacterin) dari Escherichia coli galur enterotoksigenik. Induk bunting divaksinasi 2-4 minggu sebelum melahirkan untuk merangsang produksi antibodi. Antibodi diteruskan kepada anak melalui kolostrum. Penelitian dila­kukan terus untuk mengembangkan vaksin oral dari Escherichia coli yang diinaktifkan dengan panas (heat-inactivated Escherchia coli) untuk digunakan pada pedet. Hewan terinfeksi tidak berbahaya bagi manusia.

Sumber : https://nashatakram.net/jenis-kata/