Hubungan Thaharoh dengan Kebersihan, Kesehatan, dan Keindahan Lingkungan

Hubungan Thaharoh dengan Kebersihan, Kesehatan, dan Keindahan Lingkungan

Hubungan Thaharoh dengan Kebersihan, Kesehatan, dan Keindahan Lingkungan

Hubungan Thaharoh dengan Kebersihan, Kesehatan, dan Keindahan Lingkungan
Hubungan Thaharoh dengan Kebersihan, Kesehatan, dan Keindahan Lingkungan

Hubungannya

Hubungan thaharoh dengan kebersihan, kesehatan, dan keindahan lingkungan sangatlah erat dan saling mendukung. Thaharoh menjadi salah satu syarat diterimanya ibadah kita, dengan thaharoh yang najis bisa menjadi suci, tapi bersih belum tentu suci. Cara thaharoh diatur oleh syariat, sedang kebersihan dan keindahan lingkungan sesuai selera manusia.
Bersuci nerupakan persyaratan dari beberapa macam ibadah, oleh karna itu bersuci memperoleh tempat yang paling utama dalam ajaran islam.Berbagai aturan dan hukum ditetapkan oleh syara’ dengan maksud agar manusia menjadi suci dan bersih baik lahir maupun batin. Pokok dari ajaran islam tentang pengaturan hidup bersih, suci dan sehat bertujuan agar muslim dapat melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai khalifah di muka bumi ini.Karna dengan kesucian kebersihan dapat meningkatkan derajat harkat dan martabat di hadirat Allah swt.

Perbeda’an Ulama’

1.Perbedaan ulama mengenai takaran air untuk bersuci

Syafi’i : air yang mengalir dan tenang sama saja selama kurang lebih 2 kullah boleh digunakan untuk bersuci.
Hambali : air yang tenang jika kurang dari 2 kullah jika bersentuhan dengan najis akan menjadi najis,sedang jika air yang mengalir apabila bersentuhan dengan najis tidak akan menjadi najis kecuali berubah sifatnya.
Maliki : baik sedikit atau banyak air tersebut tidak berubah menjadi najis jika bersentuhan dengan najis selama tidak ada perubahan apa-apa.

Sedangkan takaran 2 kullah itu sendiri ;
“menurut sebagian syaikh azhar 2 kullah adalah 500 kali iraq,sedang menurut Imam Abu Ja’far Ash-Shadiq 2 kullah adalah 1200 kali Iraq”.

2. Perbeda’an ulama’ tentang menyentuh, membaca, menulis mushaf sa’at berhadats

Imam Maliki ; tidak boleh menulis, tidak boleh menyentuh kulitnya sekalipun dengan aling-aling, tetapi boleh melafalkannya,
Imam Hambali ; boleh menulisnya, dan boleh membawanya tapi harus memakai aling-aling,
Imam Syafi’i ; boleh menulisnya, tapi tidak boleh menyentuhnya,
imam Hanafi ; tidak boleh menulis atau menyentuhnya, tapi boleh membacanya tanpa memakai Al-qur’an,
Imam Imamiyah ; diharamkan menyentuhnya, tapi diperbolehkan membaca dan menulisnya.

Demikianlah penjelasan mengenai Hubungan Thaharoh dengan Kebersihan, Kesehatan, dan Keindahan Lingkungan. Semoga bermanfaat Terimakasih.

Baca Juga: