BUDIDAYA JAMBU AIR

BUDIDAYA JAMBU AIR

BUDIDAYA JAMBU AIR

BUDIDAYA JAMBU AIR
BUDIDAYA JAMBU AIR
  1. SEJARAH SINGKAT

Jambu air berasal dari daerah Indo Cina dan Indonesia, tersebar ke Malaysia dan

pulau-pulau di Pasifik. Selama ini masih terkonsentrasi sebagai tanaman pekarangan

untuk konsumsi keluarga. Buah Jambu air tidak hanya sekedar manis menyegarkan,

tetapi memiliki keragaman dalam penampilan.

Jambu air (Eugenia aquea Burm) dikategorikan salah satu jenis buah-buahan

potensial yang belum banyak disentuh pembudidayannya untuk tujuan komersial.

Sifatnya yang mudah busuk menjadi masalah penting yang perlu dipecahkan.

Buahnya dapat dikatakan tidak berkulit, sehingga rusak fisik sedikit saja pada buah

akan mempercepat busuk buah.

  1. JENIS TANAMAN

Sistematika tanaman jambu air adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantarum

Sub Kingdom : Kormophyta

Super Divisio : Kormophyta biji

Divisio : Spermatophyta

Sub Divisio : Angiospermae

Classis : Dycotyledoneae

Ordo : Myrtales

Familia : Myrtaceae

Genus : Syzygium

Species : Eugenia aquea

Selain itu juga terdapat 2 jenis jambu air yang banyak ditanam, tetapi keduanya tidak

begitu menyolok perbedaannya. Ke dua jenis tersebut adalah Syzygium quaeum

(jambu air kecil) dan Syzygium samarangense (jambu air besar). Varietas jambu air

besar yakni: jambu Semarang, Madura, Lilin (super manis), Apel dan Cincalo (merah

dan hijau/putih) dan Jenis-jenis jambu air lainnya adalah: Camplong (Bangkalan),

Kancing, Mawar (jambu Keraton), Sukaluyu, Baron, Kaget, Rujak, Neem, Lonceng

(super lebat), dan Manalagi (tanpa biji). Sedangkan varietas yang paling komersil

adalah Cincalo dan Semarang, yang masing-masing terdiri dari 2 macam (merah dan

putih).

  1. MANFAAT TANAMAN

Pada umumnya jambu air dimakan segar, tetapi dapat juga dibuat puree, sirop, jeli,

jam/berbentuk awetan lainnya. Selain sebagai “buah meja” jambu air juga telah

menjadi santapan canggih dengan dibuat salada dan fruit coctail. Kandungan kimia

yang penting dari jambu air adalah gula dan vitamin C.

Buah jambu air masak yang manis rasanya, selain disajikan sebagai buah meja juga

untuk rujak dan asinan. Kadang-kadang kulit batangnya dapat digunakan sebagai

obat.

  1. SENTRA PENANAMAN

Menurut data statistik dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Jawa Barat,

Kabupaten Karawang, Tangerang, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut,

Cirebon, Subang dan Bekasi termasuk 10 besar sentra penanaman pohon jambu.

Jambu air Cincalo merah banyak terdapat di Karawang dan terkenal dengan jambu

Bolang yang bila matang benar berwarna merah tua kebiruan dengan rasa manisasam

segar sedangkan Jambu air Semarang (merah dan putih) banyak terdapat di

Indramayu.

  1. SYARAT TUMBUH

5.1. Iklim

1) Angin sangat berperan dalam pembudidayaan jambu air. Angin berfungsi dalam

membantu penyerbukan pada bunga.

2) Tanaman jambu air akan tumbuh baik di daerah yang curah hujannya

rendah/kering sekitar 500–3.000 mm/tahun dan musim kemarau lebih dari 4 bulan.

Dengan kondisi tersebut, maka jambu air akan memberikan kualitas buah yang

baik dengan rasa lebih manis.

3) Cahaya matahari berpengaruh terhadap kualitas buah yang akan dihasilkan.

Intensitas cahaya matahari yang ideal dalam pertumbuhan jambu air adalah 40–

80 %.

4) Suhu yang cocok untuk pertumbuhan tanaman jambu air adalah 18-28 derajat C.

5) Kelembaban udara antara 50-80 %.

5.2. Media Tanam

1) Tanah yang cocok bagi tanaman jambu air adalah tanah subur, gembur, banyak

mengandung bahan organik.

2) Derajat keasaman tanah (pH) yang cocok sebagai media tanam jambu air adalah

5,5–7,5.

3) Kedalaman kandungan air yang ideal untuk tempat budidaya jambu air adalah 0-

50 cm; 50-150 cm dan 150-200 cm.

4) Tanaman jambu air sangat cocok tumbuh pada tanah datar.

5.3. Ketinggian Tempat

Tanaman jambu air mempunyai daya adaptasi yang cukup besar di lingkungan tropis

dari dataran rendah sampai tinggi yang mencapai 1.000 m dpl.

  1. PEDOMAN BUDIDAYA

6.1. Pembibitan

1) Persyaratan Benih/Bibit

Biji berasal dari varietas unggul, berumur lebih dari 15 tahun, produktif dan

produksi stabil. Biji berasal dari buah masak pohon, yang besarnya normal dan

mulus. Biji dikeringanginkan selama 1-3 hari di tempat teduh. Biji-biji yang

memenuhi syarat adalah berukuran relatif besar, ukuran seragam, bernas dan

tidak cacat, dianjurkan dalam meggunakan bibit jambu air hasil

cangkokan/okulasi. Selain lebih mudah dilakukan, cara ini lebih cepat

menghasilkan buah.

2) Persiapan Benih

  1. Bibit Enten (Grafting)

Model sambungan yang terbaik adalah sambungan celah. Batang bawah

berasal dari bibit hasil perbanyakan dengan biji yang berumur 10 tahun,

sedangkan pucuk berasal dari pohon induk unggul. Setelah disambung bibit

dipelihara selama 2-3 bulan

  1. Bibit Cangkok

Cabang yang akan dicangkok berada pada tanaman yang unggul dan produktif.

Cabang yang dipilih tidak telalu tua/muda, berwarna hijau keabuabuan/

kecoklat-coklatan dengan diameter sedikitnya 1.5 cm. Setelah 2-2.5

bulan (sudah berakar), bibit segera dipotong dan ditanam dipolibag dengan

media campuran : pupuk kandang 1 : 1. Bibit dipelihara selama 1 bulan.

3) Teknik Penyemaian Benih

Persemaian dapat dilakukan di dalam bedengan atau di polibag.

  1. a) Bedengan
  2. Olah tanah sedalam 30-40 cm dengan cangkul kemudian keringkan selama

15-30 hari.

  1. Buat bedengan dengan lebar 100-120 cm, tinggi 30-40 cm, panjang sesuai

lahan dan jarak antar bedengan 60 cm.

  1. Campurkan 2 kg/m2pupuk kandang dengan tanah bedengan.
  2. Buat sungkup bedengan berbentuk setengah lingkaran dengan tinggi pusat

lingkaran minimal 50 cm. Naungi sungkup dengan plastik bening.

  1. b) Polybag
  2. Lubangi dasar polybag diameter 10-15 cm.
  3. Isi polibag dengan media berupa campuran tanah, pupuk kandang (2 : 1).
  4. Simpan polybag di dalam sungkup.

4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian

Pemeliharaan pembibitan dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. a) Penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari, terutama jika kemarau.
  2. b) Penyiangan dilakukan sesuai dengan pertumbuhan gulma.
  3. c) Pemupukan setiap 3 bulan dengan urea, SP-36 dan KCl (2:1) sebanyak 50-100

gram/m2 atau 4 gram/polibag.

  1. d) Penyemprotan pestisida dengan konsentrasi 30-50% dari dosis anjuran.
  2. e) Membuka sungkup jika cuaca cerah secara berangsur-angsur agar tanaman

dapat beradaptasi dengan lingkungan kebun.

5) Pemindahan Bibit

Bibit di bedengan dipindahkan ke polybag setelah berumur 6 bulan. Pindah tanam

ke lapangan dilakukan setelah bibit berumur 10-12 bulan di persemaian.

6.2. Pengolahan Media Tanam

1) Persiapan

Calon tempat tumbuh tanaman jambu air harus dibersihkan dahulu dari berbagai

pengganggu seperti: rerumputan, semak/onak dan binatang. Lahan hanya diolah

di lubang tanam dan dilaksanakan 15-30 m hari sebelum tanam. Jarak tanam

jambu air adalah 8 x 8 m dengan lubang tanam berukuran 60 x 60 x 60 cm.

2) Pembukaan Lahan

Tanah yang akan dipergunakan untuk Tanaman jambu air dikerjakan semua

secara bersama, tanaman pengganggu seperti semak-semak dan rerumputan

dibuang, dan benda-benda keras disingkirkan kemudian tanah dibajak atau

dicangkul sampai dalam, dengan mempertimbangkan bibit yang akan ditanam.

Bila bibit berasal dari cangkokan pengolahan tanah tidak perlu terlalu dalam tetapi

bila hasil okulasi perlu pengolahan yang cukup dalam. Kemudian dibuatkan

saluran air selebar 1 m dan kedalam disesuaikan dengan kedalaman air tanah,

guna mengatasi sistem pembuangan air yang kurang lancar. Tanah yang kurus

dan kurang humus/tanah cukup liat diberikan pupuk hijau yang dibuat dengan cara

mengubur ranting-ranting dan dedaunan, dengan kondisi seperti ini dibiarkan

selama kurang lebih 1 tahun kemudian dilanjutkan pembuatan bedengan sesuai

dengan kebutuhan.

3) Pengapuran

Pengapuran tanah sebaiknya dilakukan 1 atau 2 bulan menjelang hujan.

4) Pemupukan

Sebelum penanaman kedalam lubang tanam perlu dimasukkan pupuk kandang

sekitar 1 blek minyak tanah. Jika perlu ditambah 2 genggam pupuk NPK. Setelah

itu perlu diberi pelindung

6.3. Teknik Penanaman

Penanaman jambu air dapat dilakukan di pot/di kebun, Jika yang digunakan adalah

bibit cangkokan maka penanaman batang lebih dalam agar pohon bisa tumbuh

secara kuat.

1) Penentuan Pola Tanam

Bibit jambu air dikebun dapat ditanam dengan pola tanam/jarak tanam 8 x 8 m.

2) Pembuatan Lubang Tanam

Lubang tanam sebaiknya dibuat pada akhir musim kemarau/menjelang musim

hujan, agar pada saat mendekati musim hujan, tanaman sudah berdiri. Dengan

demikian tanaman baru (pada musim hujan) tidak perlu disiram 2 kali sehari.

Penyiapan lubang tanaman terdiri dari:

  1. a) mula-mula tanah digali di tempat yang sudah ditentukan;
  2. b) ukuran lubang ukuran lubang: panjang x lebar x dalam = 60 x 60 x 60 cm. atau

panjang x lebar x dalam = 1 x 1 x 0,5 m.

3) Cara Penanaman

Bibit jambu air ditanam ke dalam lubang tanam berukuran 60 x 60 x 60 cm. Perlu

memperhatikan kedalaman penanaman dan waktu penanaman sebaiknya

dilaksanakan persis pada awal musim hujan dan pada sore hari.

6.4. Pemeliharaan Tanaman

1) Penjarangan dan Penyulaman

Penyulaman dilakukan sebelum tanaman berumur 1 bulan. Bibit yang tidak

tumbuh diganti dengan bibit baru yang ditanam pada lubang tanam yang sama.

2) Penyiangan

Penyiangan dilakukan dengan maksud menyuburkan tanah, membuang rumput

liar/tanaman liar (kalau ada) atau binatang yang mendekap diantara tanah.

Dengan penyiangan dapat memeriksa keadaan lapisan tanah.

3) Pemupukan

Pemupukan jambu air dapat diberikan sebelum berbuah dan sesudah berbuah,

sebaiknya setelah dilakukan penyiangan.

  1. a) Tanaman belum berbuah
  2. Pupuk kandang diberikan sekali gus pada awal musim hujan.
  3. Pupuk urea diberikan 1/3 bersamaan dengan pupuk kandang.
  4. 2 minggu setelah itu, sisa urea diberikan bersamaan dengan TSP dan KCl.
  5. b) Tanaman sudah berbuah
  6. Pupuk kandang diberikan sekaligus pada awal musim hujan.
  7. Pupuk urea 2/3, TSP 1/2, KCl 1/3 diberikan pada saat tanaman belum

berbunga (bersamaan dengan pemberian pupuk kandang dan saat hujan

pertama mulai turun).

  1. Sisa pupuk diberikan setelah buah membesar (umur buah sekitar 1-2 bulan

sejak berbunga dan ukuran buah } sebesar telur puyuh). Cara pemberian

pupuk tersebut sebaiknya dibenam dalam Rorak (got) sedalam 20-30 cm

mengelilingi tajuk pohon. Dosis pupuk bagi pohon jambu air umur ≥ 15 tahun.

  1. Pupuk kandang: maksimal 30 kaleng minyak tanah.
  2. Pupuk Urea, pupuk TSP, pupuk KCl (masing-masing) : 2500 gram.

Kenaikan takaran pupuk tersebut setiap tahun setelah jambu air berumur ≥ 10

tahun ialah:

  1. a) Pupuk kandang: 2 kaleng minyak tanah.
  2. b) Pupuk Urea: 100 gram.
  3. c) Pupuk TSP: 50 gram.
  4. d) Pupuk KCl: 50-100 gram.

4) Pengairan dan Penyiraman

Tanaman jambu air yang hidup pada tanah dengan kedalaman air tanah 150-200

cm, pada musim kemarau sangat memerlukan penyiraman, agar tanah tetap

lembab. Ketika masih muda, selama 2 minggu pertama tanaman muda perlu diairi

1-2 kali sehari. Jika sudah cukup besar dan perakarannya dalam, tanaman

disirami 10-12 kali sebulan.

5) Waktu Penyemprotan Pestisida

Penyemprotan dilakukan secara teratur 1-2 kali seminggu. Awal penyemprotan

dilakukan saat buah jambu air sebesar telur puyuh (umur } 1-2 bulan sejak

berbunga). Akhir penyemprotan dilakukan saat buah jambu air akan dipetik

(sebulan sebelum dipetik dan warna buah sudah berubah) atau sampai gejala

serangannya hilang. Ketika hendak melakukan penyemprotan pestisida, atau

pupuk daun/hormon, kita harus memperhatikan cuaca waktu itu. Kalau langit

mendung dan kemungkinannya akan turun hujan, sebaiknya penyemprotan

ditunda dulu.

6) Pemeliharaan Lain

Pemangkasan dilakukan dengan tujuan untuk membentuk pohon, pemeliharaan

dan peremajaan. Membentuk pohon: dilakukan setelah mencapai ketinggian 2

meter, dengan ketinggian 1,35-1,5 m dari permukaan tanah dan bagian yang

dipangkas adalah cabang/tunas. Untuk pemeliharaan: dilakukan setiap saat

kecuali ketika tanaman sedang berbunga, bagian yang ditanam adalah dahandahan

yang tua, yang mati kering, luka serta tidak sempurna. Untuk peremajaan:

memangkas seluruh bagian tanaman yang sudah kelewat tua, tidak berproduksi

atau diserang hama.

  1. HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Hama

1) Ulat kupu-kupu gajah

Ciri: panjang 12 cm, warna hijau muda kebiru-biruan, bertubuh gemuk dan lunak,

tertutup lapisan lilin keputih-putihan. Telur-telurnya ditaruh di tepi daun, 2-3 butir

bersama-sama, warna merah muda. Kepompong berada di antara beberapa daun

atau di sebelah bawah daun. Ulat-ulat tersebut sangat rakus memakan daun.

Pengendalian: dengan cara mengumpulkan telur, ulat, dan kepompong untuk

dimusnahkan.

2) Kutu perisai hijau

Ciri: panjang kutu 3-5 mm, warna hijau (kadang agak kemerahan). Melekat pada

bagian-bagian pohon yang hijau dan di bagian bawah daun. Menyebabkan

terjadinya cendawan hitam seperti jelaga. Pengendalian: cara alami dimakan oleh

beberapa macam kepik (merah tua, panjang 5 mm dan biru panjang 6 mm) dan

ulat (warna merah muda, panjang 13 mm). Kutu ini di musim penghujan bisa

musnah oleh serangan beberapa macam cendawan.

3) Keluang dan codot

Pengendalian: buah-buahan yang hampir tua dibungkus kantong kertas/kain-kain

bekas.

4) Pasilan atau benalu

Pengendalian: dibuang dan dibersihkan.

5) Lalat buah (dacus pedestris)

Buah dan daun yang terserang oleh ulat ini. Lalat ini meletakkan telurnya pada

daging buah, sehingga setelah menetas larvanya memakan buah jambu air.

Pengendalian: dengan insektisida Diazinon atau Bayrusil yang disemprotkan ke

pohon, daun dan buah yang masih pentil dengan dosis sesuai anjuran.

6) Penggerek batang

Pengendalian: dengan cara menyumbatkan kapas yang telah direndam

insektisida Diazinon atau Bayrusil kedalam lubang batang yang digerek.

7) Ulat penggulung/pemakan daun

7.2. Penyakit

1) Gangguan pada akar

Pemupukan yang kurang hati-hati pada jambu air yang sedang berbuah dapat

menyebabkan akar tanaman luka, maka bunga atau buah jambu air bisa rontok.

Semua ini terjadi karena tanaman tidak mendapat suplai air dan zat makanan

sebagaimana mestinya akibat rusaknya akar tersebut. Selain itu tanah yang

berlebihan supali air juga dapat merontokkan bunga/buah, sebab sebab air yang

menggenang membuat akar susah bernafas dan mengundang cendawan yang

bisamembusukkan akar.

2) Gangguan pada buah

Penyebab: ulat (lalat) buah dan sejenis cendawan yang mengakibatkan buah

rontok, busuk. Serangga ini langsung menyerang buah dengan ciri noda berwarna

kecoklatan atau kehitaman pada permukaan buah. Pengendalian: (1) cara

membungkus buah sewaktu masih dipohon (2) dengan penyemprotan insektisida

thioda (2-3 cc/liter air) dan fungisida dithane (3 cc/liter air)

  1. PANEN

8.1. Ciri dan Umur Panen

Tanaman jambu air dapat berbuah setelah berumur 3-4 tahun, berbunga sebanyak 2

kali dalam setahun (Juli dan September) dan buahnya masak pada Agustus dan

Nopember. Ciri-ciri buah yang dapat dipanen dinilai dari tingkat kematangan

berdasarkan warna kulit buah, yaitu hijau muda, hijau tua, hijau sedikit merah hijaumerah

dan merah hijau. Keadaan fisik buah juga menjadi kriteria dalam panen yaitu

semakin terlihat matang buah yang nampak, maka semakin merah warna kulitnya

dan makin besar pula ukuran fisiknya.

8.2. Cara Panen

Buah dipetik dari rangkaiaanya dengan hati hati jangan sampai rusak, apalagi jatuh.

8.3. Periode Panen

Masa berbuah jambu air bisa lebih dari 1 kali dalam setahun, tergantung pada

keadaan lingkungan.

8.4. Prakiraan Produksi

Buah jambu air jenis merah–hijau dapat dipanen bila warna merah pada buah jambu

lebih banyak dari pada warna hijaunya, Pada saat tersebut nisbah TPT/asam dan

Vitamin C-nya masing-masing adalah 80,8 dan 48 kg/100 gram

  1. PASCAPANEN

9.1. Pengumpulan

Buah hasil panen dikumpulkan dimasukan kedalam keranjang plastik dan disimpan

sementara di ruangan yang sejuk. Buah dari jenis yang berbeda tidak disatukan

dengan jenis yang lain.

9.2. Penyortiran dan Penggolongan

Pisahkan buah yang cacat dari yang baik, kemudian klasifikasikan buah berdasarkan

ukurannya. Buah dicuci bersih dengan air mengalir atau dialiri air kemudian ditiriskan

di rak pengeringan.

9.3. Penyimpanan

Buah yang telah dikemas disimpan di daerah yang teduh kering dan sejuk.

9.4. Pengemasan dan Pengangkutan

Buah dikemas dalam keranjang plastik dan disusun rapi agar tidak berpindah tempat

selama dalam pengangkutan. Sebaiknya bauh disimpan dalam cold storage jika tidak

langsung diangkut ke pasar.

  1. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

10.1.Analisis Usaha Budidaya

Perkiraan analisis budidaya jambu air seluas 1 hektar dengan jarak tanam 8 x 8 m,

populasi 156 pohon di Jawa Barat pada tahun 1999.

1) Biaya produksi tahun ke-1

  1. Sewa Lahan Rp. 30.000.000,-
  2. Bibit 160 batang @ Rp. 3.000,- Rp. 480.000,-
  3. Pupuk

– Pupuk kandang 6 ton @ Rp. 150.000,-/ton Rp. 900.000,-

– Urea 25 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 37.500,-

– SP-36 25 kg @ Rp.1.900,- Rp. 47.500,-

– KCl 25 kg @ Rp. 1.800,- Rp. 45.000,-

  1. Pestisida 4 liter Rp. 625.000,-
  2. Tenaga kerja

– Lubang tanam, ajir 15 HKP @ Rp. 7.500,- Rp. 112.500,-

– Beri pupuk 5HKP + 10 HKW @ Rp. 5.000,- Rp. 87.500,-

– Tanam 5 HKP + 6 HKW Rp. 67.500,-

– Pemeliharaan 40 HKP+20 HKW Rp. 400.000,-

2) Biaya produksi tahun ke-2 s.d. ke-4

  1. Pupuk

– Pupuk kandang 10 ton @ Rp. 150.000,- Rp. 1.500.000,-

– Urea 75 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 112.500,-

– SP-36 50 kg @ Rp.1.900,- Rp. 95.000,-

– KCl 50 kg @ Rp.1.800,- Rp. 90.500,-

  1. Pestisida 5 liter Rp. 781.250,-
  2. Tenaga kerja

– Tenaga pemeliharaan 50 HKP+50 HKW Rp. 625.000,-

  1. Alat Rp. 600.000,-

3) Biaya produksi tahun ke-5 s.d. ke-15

  1. Pupuk

– Pupuk kandang 24 ton @ Rp. 150.000,- Rp. 3.600.000,-

– Urea 125 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 187.500,-

– SP-36 300 kg @ Rp.1.900,- Rp. 570.000,-

– KCl 150 kg @ Rp. 1.800,- Rp. 270.000,-

  1. Pestisida 7 liter Rp. 1.093.750,-
  2. Alat Rp. 450.000,-
  3. Tenaga kerja

– Pemeliharaan 50 HKP + 60 HKW Rp. 675.000,-

– Panen & pasca panen 40 HKP + 50 HKW Rp. 550.000,-

Jumlah biaya produksi dalam 15 tahun Rp. 125.574.000,-

4) Pendapatan dari hasil produksi (15 tahun) : 73,32 ton Rp. 219.960.000,-

5) Keuntungan bersih 15 tahun Rp. 94.386.000,-

6) Parameter kelayakan usaha

  1. B/C rasio = 1,752

Panen dimulai pada tahun ke 5 dan keuntungan mulai diraih pada tahun ke enam.

10.2.Gambaran Peluang Agribisnis

Prospek komoditi jambu air cukup cerah, sebab permintaan terhadap komoditi ini

terus meningkat dari tahun ke tahun. Hanya dalam membudidayakan tanaman jambu

air perlu memilih jenis yang tepat, yakni yang banyak digemari masyarakat, seperti

cincalo.

  1. STANDAR PRODUKSI

11.1.Ruang Lingkup

Standar produksi ini meliputi: syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengambilan

contoh dan cara pengemasan.

11.2.Diskripsi

11.3.Klasifikasi dan Standar Mutu

11.4.Pengambilan Contoh

Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan seperti terlihat di bawah ini. Dari

setiap kemasan diambil contoh sebanyak 20 buah dari bagian atas, tengah dan

bawah. Contoh tersebut diacak bertingkat (startified random sampling) sampai

diperoleh minimum 20 buah untuk dianalisis.

  1. Jumlah kemasan dalam partai (lot) sampai dengan 100, contoh yang diambil 5.
  2. Jumlah kemasan dalam partai (lot) 101 sampai dengan 300, contoh yang diambil 7.
  3. Jumlah kemasan dalam partai (lot) 301-500, contoh yang diambil 9.
  4. Jumlah kemasan dalam partai (lot) 501-1000, contoh yang diambil 10.
  5. Jumlah kemasan dalam partai (lot) lebih dari 1000, contoh yang diambil 15

(minimum).

Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang berpengalaman

atau dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan badan hukum.

11.5.Pengemasan

Jambu air dikemas dengan peti kayu/bahan lain yang sesuai dengan berat bersih

maksimum 30 kg. Dibagian luar kemasan diberi label yang bertuliskan antara lain:

nama barang, golongan ukuran, jenis mutu, nama/kode perusahaan, berat bersih,

negara/tempat tujuan, hasil Indonesia, daerah asal.

Baca Artikel Lainnya: